Archive for Punk Indonesia

Search Engine alternatif

Search engine atau dlm bhs indo yaitu mesin pencari adalah program komputer yang dirancang untuk membantu seseorang menemukan file-file yang disimpan dalam komputer, misalnya dalam sebuah server umum di web (WWW) atau dalam komputer sendiri. Mesin pencari memungkinkan kita untuk meminta content media dengan kriteria yang spesifik (biasanya yang berisi kata atau frasa yang kita tentukan) dan memperoleh daftar file yang memenuhi kriteria tersebut. Mesin pencari biasanya menggunakan indeks (yang sudah dibuat sebelumnya dan dimutakhirkan secara teratur) untuk mencari file setelah pengguna memasukkan kriteria pencarian.

Selain google kita bisa juga menggunakan search engine lain sperti :

amazon.com , yahoo.com , altavista.com , dll .

jadi kita gak terpaku nyari pada gugel aja .

sekian .

TRAVIAN I LOVE U =)

TRAVIAN ! ya itu adalah salah satu game onlen terbesar di indonesia .

Membernya yang mencapai puluhan ribu orang menjadikan game ini mempunyai 5 server .

cuplikan tutorial travian :

Di tahap awal desa kecilmu hanya memiliki satu bangunan.

Kami akan memperlihatkan bagaimana cara memperluas desamu sehingga menjadi kota yang kaya dan kuat di halaman berikutnya.

Terdapat empat jenis sumberdaya di travian: kayu, tanah liat, besi, dan gandum.

Sebelum kamu mulai memperluas bengunan desamu, kamu harus mengembangkan lahan sumberdayamu untuk meningkatkan suplai sumberdaya.

Setelah meningkatkan suplai sumberdaya, kamu dapat mulai malakukan ekspansi desa.

Gudang dan lumbung memungkinkan untuk menyimpan banyak sumberdaya. Cranny menyembunyikan sumberdaya agar tidak dirampok oleh musuh.

Kamu tidak sendirian di Travian. Kamu akan berinteraksi dengan ribuan pemain di dunia travian.

Pemain yang berada disekitarmu sangat penting. Untunglah ada peta yang memungkinkan untuk melihat sekitar.

cobain deh game ini : www.travian.co.id

Filosofi Punk – Anarkisme

Anarkisme : sebuah alternatif bagi sistem yang ada sekarang.

Apa itu Anarkisme serta hubungannya dengan Punk diseluruh penjuru dunia. Kegagalan para politisi dalam “politik jual – beli” meyakinkan sebuah kontra kultur akan ide bahwa kita semua akan jauh lebih baik hidup tanpa vampir-vampir ini. “Semua pemerintahan tidaklah diinginkan dan tidak perlu, tidak ada pelayanan yang dapat disediakan pemerintahan yang tidak dapat disediakan oleh suatu komunitas secara swadaya. Kita tidak perlu disuruh – suruh melakukan sesuatu atau diberitahu bagaimana menghidupi hidup kita apalagi dibebani oleh pajak, aturan, regulasi – regulasi serta tuntutan – tuntutan akan hasil kerja kita” (Profane Existence(PE) #5,Agustus 1990 hal 38,Ayf)

Ketika harus memilih diantara ideologi politik : Punk cenderung Anarkis. Hal ini tidak mengesampingkan fakta masih ada punk yang tidak membaca sejarah dan terus mempromosikan tetap berlanjutnya bentuk-bentuk kapitalisme atau komunisme berjalan dimuka bumi ini. Tetapi dapat dikatakan hampir semua Punk percaya akan prinsip Anarkis untuk sama sekali tidak menggunakan pemerintahan resmi atau pengatur serta menghargai kebebasan dan tanggung jawab individu (siapa yang tidak). Profane Existence(berikutnya ditulis PE) merupakan fanzine Anarkis Punk terbesar di Amerika Serikat yang didalamnya berisi reportase politik maupun musik dari perspektif Anarkis. Isi majalah ini banyak memuat periodikal yang ditujukan bagi pembaca-pembaca yang secara intelektual mulai berkembang menjadi aktivis dan mulai meninggalkan sisi musikal gerakan Punk ke format politik.

Sebelumnya perlu diketahui Scene di Eropa banyak memiliki fanzine-fanzine dan band-band Anarkis karena sejarah punk disana lebih aktif dibandingkan rekan-rekan mereka di Amerika serikat. Para pembuat dan editor-editor fanzine ini terinspirasi oleh gelombang ke 2 Punk di Eropa (1980 – 1984) yang sangat berorientasi politis. Band-band seperti CRASS, CONFLICT dan DISCHARGE di Inggris, THE EX dan BGK di Belanda serta MDC dan DEAD KENNEDY di Amerika Serikat merubah Punk dari berandalan Rock N Roll menjadi para pemberontak yang berfikir. Semangat ini diwariskan sekarang oleh jutaan band-band yang memainkan berbagai ragam spektrum musikal Punk. Los Crudos yang menjerit didepan wajah para penindas dengan lirik-lirik eksplisit bagi kesadaran kelas serta Propagandhi yang menemukan tempatnya dalam irama pop Punk yang gampang disenandungkan, ini semua menghasilkan ribuan anak-anak muda diseluruh dunia dengan bangga menyebut diri mereka “Anarkis” dan mulai secara sehat menunjukkan ketidaksukaan akan rezim- rezim pemerintahan yang ada diseluruh dunia.

“Pada perkembangan awal apa yang disebut peradaban ada segelintir orang yang menyadari jika mereka dapat hidup dengan mudah dan menjadi kaya dengan membuat orang lain bekerja bagi mereka, Orang-orang ini menggunakan tipuan bahkan kekerasan untuk menginstitusi diri mereka sebaga

dikutip dari

anarcoi.gudbug.com

SALUTE buat marjinal……nGehEEeee!!!!!

Hah!!!! akhirnya kebelet mereka yang udah ditahan sejak lama akhirnya keluar juga…..SAlute!!! 27 tembang ngehe tapi asik buat didenger ama semua kalangan….(nggak bohong lho, dipluit-kota banyak tukang ojek yang suka dengerin kaset-kaset mereka, ya emang sih….gara-gara punk sinting disini juga yang nyekoking tukang ojek itu ampe akhirnya mereka ikut-ikutan minjemkaset sama anak-anak punk itu)

sinting bener, kali ini gw kaget…..lama gak liat mereka live dipanggung underground-punk, gw gak tau sama sekali kalo lagu-lagu yang biasa mereka maenin akustikan pas gw masih sering maen kekontrakan mereka, ternyata jadi tambah asik pas dimaenin nge-punk, gila!!!

dialbum ini, mereka bawain lagu-lagu yang gak begitu fresh, karena banyak yang emang udah sering dimaenin dipanggung-panggung, tapi ada juga beberapa lagu mereka yang emang masih baru, salah satunya….hmmmm…..lagu yang menceritakan soal tragedi hilangnya nyawa ribuan manusia pas ada bencana alam tsunami diaceh…..

ada satu lagu yang dari dulu (pas waktu pertama kali dibikin) gw udah suka banget….begini nih liriknya….banyak dari teman-temanku….lahir dari keluarga miskin……dst…….trus ama lagu negara dunia kethree (tiga)…..jadi dua dong yang elo suka??? katanya satu??? hehehe….namanya juga gw hidup dinegeri yang masih dijajah, maklum kalo bego!!!…..kayak yang ada dilagu mereka 1+1=8…..hahahahaha
sumpah….lo mesti beli ni kaset, kalo gak mampu beli….rekam dari kaset temen lo juga gak apa-apa, ato kalo gak sanggup juga…..lo colong aja dilapak-lapak biasa anak-anak pada jualan kaset :P ….

pokoknya…..TOB-lah buat MarjiNal…….keep fight boys…..!!!!……….((A))

dikutip dari

anarcoi.gudbug.com

PUNK NOT DEATH

Komunitas yang satu ini memang sangat berbeda sendiri dibandingkan dengan komunitas pada umumnya. Banyak orang yang menilai bahwa komunitas yang satu ini termasuk salah satu komuitas yang urakan, berandalan dan sebagainya. Namun jika dicermati lebih dalam banyak sekali yang menarik yang dapat Anda lihat di komunitas ini. Punk sendiri terbagi menjadi beberapa komunitas-komunitas yang memiliki ciri khas tersendiri, terkadang antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain juga sering terlibat masalah. Walaupun begitu mungkin beberapa komunitas Punk di bawah ini dapat mempengaruhi kehidupan Anda sehari-hari.

Punk Community
Anarcho Punk
Komunitas Punk yang satu ini memang termasuk salah satu komunitas yang sangat keras. Bisa dibilang mereka sangat menutup diri dengan orang-orang lainnya, kekerasan nampaknya memang sudah menjadi bagiandari kehidupan mereka. Tidak jarang mereka juga terlibat bentrokan dengan sesama komunitas Punk yang lainnya.
Anarcho Punk juga sangat idealis dengan ideologi yang mereka anut. Ideologi yang mereka anut diantaranya, Anti Authoritarianism dan Anti Capitalist.Crass, Conflict, Flux Of Pink Indians merupakan sebagian band yang berasal dari Anarcho Punk.

Crust Punk
Jika Anda berpikir bahwa Anarcho Punk merupakan komunitas Punk yang sangat brutal, maka Anda harus menyimak yang satu ini. Crust Punk sendiri sudah diklaim oleh para komunitas Punk yang lainnya sebagai komunitas Punk yang paling brutal. Para penganut dari faham ini biasa disebut dengan Crusties. Para Crusties tersebut sering melakukan berbagai macam pemberontakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Musik yang mereka mainkan merupakan penggabungan dari musik Anarcho Punk dengan Heavy Metal. Para Crusties tersebut merupakan orang-orang yang anti sosial, mereka hanya mau bersosialisasi dengan sesama Crusties saja.

Glam Punk
Para anggota dari komunitas ini merupakan para seniman. Apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari sering mereka tuangkan sendiri dalam berbagai macam karya seni. Mereka benar-benar sangat menjauhi perselisihan dengan sesama komunitas atau pun dengan orang-orang lainnya.

Hard Core Punk
Hard Core Punk mulai berkembang pada tahun 1980an di Amerika Serikat bagian utara. Musik dengan nuansa Punk Rock dengan beat-beat yang cepat menjadi musik wajib mereka. Jiwa pemberontakan juga sangat kental dalam kehidupan mereka sehari-hari, terkadang sesama anggota pun mereka sering bermasalah.

Nazi Punk
Dari sekian banyaknya komunitas Punk, mungkin Nazi Punk ini merupakan sebuah komunitas yang benar-benar masih murni. Faham Nazi benar-benar kental mengalir di jiwa para anggotanya. Nazi Punk ini sendiri mulai  berkembang di Inggris pada tahun 1970an akhir dan dengan sangat cepat menyebar ke Amerika Serikat. Untuk musiknya sendiri, mereka menamakannya Rock Against Communism dan Hate Core.

The Oi
The Oi atau Street Punk ini biasanya terdiri dari para Hooligan yang sering membuat keonaran dimana-mana, terlebih lagi di setiap pertandingan sepak bola. Para anggotanya sendiri biasa disebut dengan nama  Skinheads. Para Skinheads ini sendiri menganut prinsip kerja keras itu wajib, jadi walaupun sering membuat  kerusuhan mereka juga masih memikirkan kelangsungan hidup mereka. Untuk urusan bermusik, para Skinheads ini lebih berani mengekspresikan musiknya tersebut dibandingakan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Para Skinheads ini sendiri sering bermasalah dengan Anarcho Punk dan Crust Punk.

Queer Core
Komunitas Punk yang satu ini memang sangat aneh, anggotanya sendiri terdiri dari orang-orang “sakit”, yaitu para lesbian, homoseksual, biseksual dan para transexual. Walaupun terdiri dari orang-orang “sakit”, namun komunitas ini bisa menjadi bahaya jika ada yang berani mengganggu mereka. Dalam kehidupan, anggota dari komunitas ini jauh lebih tertutup dibandingkan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Queer Core ini sendiri merupakan hasil perpecahan dari Hard Core Punk pada tahun 1985.

Riot Grrrl
Riot Grrrl ini mulai terbentuk pada tahun 1991, anggotanya ialah para wanita yang keluar dari Hard Core Punk. Anggota ini sendiri juga tidak mau bergaul selain dengan wanita. Biasanya para anggotanya sendiri berasal dari Seattle, Olympia dan Washington DC.

Scum Punk
Jika Anda tertarik dengan Punk, mungkin ini salah satu komunitas yang layak untuk diikuti. Scum Punk menamakan anggotanya dengan sebutan Straight Edge Scene. Mereka benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan kesehatan. Banyak anggota dari Scum Punk yang sama sekali tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh mereka sendiri.

The Skate Punk
Skate Punk memang masih erat hubungannya dengan Hard Core Punk dalam bermusik. Komunitas ini berkembang pesat di daerah Venice Beach California. Para anggota komunitas ini biasanya sangat mencintai skate board dan surfing.

Ska Punk
Ska Pun merupakan sebuah penggabungan yang sangat menarik antara Punk dengan musik asal Jamaica yang biasa disebut reggae. Mereka juga memiliki jenis tarian tersendiri yang biasa mereka sebut dengan Skanking atau Pogo, tarian enerjik ini sangat sesuai dengan musik dari Ska Punk yang memilikibeat-beat yang sangat cepat.

Punk Fashion
Para Punkers biasanya memiliki cara berpakaian yang sangat menarik, bahkan tidak sedikit masyarakat yang bukan Punkers meniru dandanan mereka ini. Terkadang gaya para Punkers ini juga digabungkan dengan gaya berbusana saat ini yang akhirnya malah merusak citra dari para Punkers itu sendiri. Untuk pakaiannya sendiri, jaket kulit dan celana kulit menjadi salah satu andalan mereka, namun ada juga Punkers yang menggunakan celana jeans yang sangat ketat dan dipadukan dengan kaos-kaos yang bertuliskan nama-nama band mereka atau kritikan terhadap pemerintah. Untuk rambut biasanya gaya spike atau mohawk menjadi andalan mereka. Untuk gaya rambut ini banyak orangorang biasa yang mengikutinya karena memang sangat menarik, namun terkadang malah menimbulkan kesan tanggung. Body piercing, rantai dan gelang spike menjadi salah satu yang wajib mereka kenakan. Untuk sepatu, selain boots tinggi, para Punkers juga biasa menggunakan sneakers namun hanya sneakers dari Converse yang mereka kenakan.

Gaya para punkers tersebut nampaknya semakin marak dikenakan akhir-akhir ini, jika begitu mungkin Anda setuju dengan ungkapan PUNK NOT DEAD.!!

Anak-anak “Punk” itu Juga Puasa

Oleh RADITYA

Batam (ANTARA News) – Mengenakan celana panjang ketat, kaus hitam, dan sepatu kanvas butut, Dennis berdiri seorang diri di pelataran Mega Mall, Batam.

Rambutnya yang biasa ia cat warna-warni, kini hanya berwarna kemerahan, walau masih terlihat jelas ciri sebagai anak “punk”.

Biasanya, setiap sore, Dennis dan komunitas punk lain berkumpul di pos masing-masing. Kebanyakan mereka hidup dari hasil mengamen.

Tetapi tidak petang itu. Ia sendirian di “pos” yang biasa menjadi tempat berkumpul kelompok punk lain.

Seiring bulan puasa menjelang, kawasan Batam Center yang biasanya diwarnai tingkah-polah anak-anak punk, mulai ditinggalkan oleh kawan-kawan Dennis. Satu per satu mereka pergi, meninggalkan komunitas untuk kembali hidup bersama keluarga saat Ramadhan tiba.

“Lebih dari setengah anak punk pada pulang (ke rumah keluarga),” kata Dennis, anak punk komunitas Sei Panas.

Di Batam, terdapat sedikitnya lima komunitas punk, Batam Centre, Panbil, Sei Panas, Batu Aji, dan Nagoya.

Pada hari biasa, mereka tinggal di ruko-ruko kosong dan pinggir jalan. Namun, pada Ramadhan, rumah toko sepi, komunitas punk meninggalkan “rumah”.

Anak-anak muda dengan rambut warna-warni dengan tatanan ditarik ke atas ala “spike”, kini jarang terlihat di jalanan Batam.

Anak punk biasanya mendeskripsikan diri sebagai manusia yang bebas berekspresi. Mereka hidup di jalan beramai-ramai dalam sebuah kelompok, tanpa aturan yang membelenggu, kecuali solidaritas yang tinggi.

Makan, tidur, senang, sedih dirasakan bersama-sama. “Makan ora makan asal ngumpul,” begitu motto mereka.

Namun demikian ketika bulan puasa tiba, mereka saling berpencar, kembali ke keluarga batih masing-masing.

Kangen masakan bunda

Magnet terkuat yang menarik anak punk pulang ke keluarga kala bulan suci adalah masakan sang bunda.

Mimi (17), gadis asal Tanjungbalai, Karimun, memilih pulang ke pulau seberang untuk mendapatkan ketenangan dan kemenangan dalam Ramadhan.

“Kasihan ibu kalau saya menghabiskan bulan puasa di jalan. Lagi pula, saya rindu masakan ibu,” katanya.

Gadis punk lain, Kaka (18) mengaku kangen menyantap gulai ikan buatan ibu.

“Makanya aku mau pulang. Buka puasa makan gulai ikan buatan ibu,… mmm nikmat,” kata gadis berambut sebahu itu tersenyum.

Gadis yang siang itu mengenakan celana pendek dan kemeja kotak-kotak mengatakan sedang mengumpulkan uang untuk pulang ke rumah orang tua di Tanjung Uma, sekitar 15 km dari Batam Centre.

“Aku baru satu hari di jalan, kemarin-kemarin pulang, karena sedang halangan, tidak puasa, jadi ke jalan lagi,” kata anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Setengah hari

Tapi, tidak semua anak punk Muslim berpuasa penuh sesuai syariat Islam.

Bento, lelaki asal Medan berusia 28 tahun, berpuasa setengah hari.

“Awak puasa setengah hari saja, habis tidak kuat,” kata pria berambut ikal melebihi bahu.

Ia mengatakan setiap pukul 12.00 WIB dia minum dan makan, menghilangkan dahaga dan lapar yang mendera karena sibuk memarkirkan motor di pusat perbelanjaan Barata, Batam Centre.

“Awak paling tidak kuat kalau haus, habis, Batam ini panas betul,” katanya.

Sekitar pukul 13.00 WIB, ia kembali berpuasa, menahan haus dan lapar, juga nafsu dunia lain.

Bagi Bento, agama adalah urusan pribadi. Tidak seorang pun manusia yang berhak mengutak-utik ibadah seseorang.

Begitu juga dengan Imunk, yang sejak Ramadan hari pertama tidak pernah puasa.

“Mungkin saya harus pulang (ke keluarga-red) dulu, biar puasa,” katanya.

Meski tidak puasa, ia mengaku menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah.

“Saya tidak mabuk,” katanya, menyebutkan toleransi yang dia lakukan kepada muslim lain.

Ia mengatakan, dirinya selama bulan puasa tidak sering minum alkohol.

“Minum sih, tapi cuma basa-basi,” katanya.

Minum basa-basi itu ia artikan meminum dalam kuantitas kecil sehingga tidak menyebabkan mabuk.

Rajin shalat

Lain Imunk, lain juga perangai Didik. Ia justru rajin shalat kala Ramadhan.

Meski jarang mandi, ia mengaku selalu shalat karena malu dengan dosa-dosa selama satu tahun.

“Paling tidak insyaf satu bulan dalam setahun,” katanya.

Ia mengaku baru “kalah” satu dalam puasa. Itu pun karena sakit.

Didik punya rencana untuk komunitasnya merayakan kemenangan Ramadan.

“Inginnya sih jalan-jalan sama anak-anak,” katanya.

Sebagai anak punk, komunitasnya memiliki “kekuasaan” mendapatkan fasilitas gratis untuk jalan-jalan.

“Stop lori di pinggir jalan, numpang, sampai mana saja,” katanya.

Ia menyebut Barelang dan Tanjungpinang sebagai tujuan berwisata saat Lebaran.

“Kalau lapar, tinggal ketuk pintu rumah orang minta makan. Masak mereka tidak punya makanan, kan lagi Lebaran, tidak boleh pelit,” katanya. (*)

ANARKISME

ANARKISME BUKANLAH KEKACAUAN ATAUPUN TINDAKAN YANG MERUSAK

ANARKISME MENGHANCURKAN INSTITUSI BUKAN KEHIDUPAN

ANARKISME ADALAH SEBUAH FILOSOFI DARI KEMERDEKAAN, KEADILAN SOSIAL, DAN RESPEK PADA KEHIDUPAN. BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI. BERSATU DAN BERJUANG DEMI SEBUAH DUNIA YANG LEBIH BAIK.

MARJINAL

Komunitas Marjinal lahir tidak lepas dari kondisi masyarakat yang tertindas. Dan perlu diketahui bahwa Marjinal tidaklah sebuah group band (walaupun rockstar semuanya he he hee) tetapi Marjinal lebih mengaktualisasikan dirinya debagai komunitas.
Marjinal juga terkenal sebagai Taring Babi, AFRA (Anti Fasis Anti Rasis), dan Tempe Quality. Ini mempunyai arti bahwa mereka ingin menghancurkan system kepakeman yang berlaku sekarang ini.
Marjinal adalah komunitas yang terbuka untuk siapa saja yang ingin ikut melawan penindasaan dengan acara yang independen, kreatif, dan adil.

Kegiatan
Selain bermusik, Marjinal juga terlibat aktif dalam gerakaan perlawanan terhadap system yang menghegemoni. Marjinal sering melakukan pengorginisiran dan bekerja sama dengan komunitas yang lain. Marjinal juga melakukan perlawanan lewat graffiti, cukil, sablun, emblem, pin, dan rumah komunitas marjinal selain sebagai ‘home base’ juga sebagai media pendidikan dan distro.

Pertemuan Kelompok Anarkis dan Punk

Pada tempat dan waktu yang sama, kelompok punk juga melakukan aksi yang “serupa” dengan kelompok anarkis, mereka “bergabung” dalam satu “barisan” yang sama. Dari kejauhan mereka terlihat sama, “tanpa ada satu titikpun” yang bisa membedakan antara punk dan partisan jaringan anti otoritarian. Yang akhirnya bisa membedakan antara dua kelompok itu adalah tujuan melakukan aksi mayday. Jaringan anti otoritarian menegaskan yang mereka lakukan adalah (semacam) aksi kelas, sementara kelompok punk menyatakan kalau yang mereka lakukan adalah semacam aksi moral untuk mendukung “kawan-kawan” buruh. Dari sini terlihat sangat jelas perbedaan dua kelompok tersebut. Jaringan anti otoritarian adalah kelompok yang “dipenuhi” dengan intelektual organik dan kelompok punk dipenuhi dengan manusia-manusia yang terkondisikan oleh media.

Intelektual organik, berbeda dengan intelektual tradisional yang merasa dirinya sebagai kelas terpisah dari masyarakat, mengakui dirinya merupakan bagian dari suatu komunitas yang menyadari fungsinya tidak saja secara ekonomi tetapi juga sosial-politik. Dalam pengertian Gramscian, inteletual organik tidak hanya secara sederhana menjelaskan kehidupan sosial menurut aturan ilmiah, tetapi lebih pada mengartikulasikan, melalui bahasa kebudayaan, perasaan dan pengalaman yang tidak bisa diekspresikan oleh massa.

Dalam jaringan anti otoritarian, intelektual organik telah menubuh dalam jaringan ini dan bahkan pembentukan jaringan ini tidak bisa dipisahkan dari kehadiran para intelektual organik. Hal ini bisa “dibuktikan” dari graffiti-graffiti yang mereka buat dan spanduk yang mereka bawa sepanjang aksi mayday. Misalnya kalimat yang tertulis dalam spanduk mereka; “Kamu tidak butuh bos, bos butuh kamu”. Kesadaran semacam ini (menurut saya) tidak akan dimiliki oleh “kelas pekerja biasa”, disini saya tidak ingin mengatakan kalau “kelas pekerja biasa” adalah sekelompok pandir, tidak. Tapi dengan situasi dimana mereka dikondisikan untuk tidak bisa menyerap informasi yang mencukupi, saya kira kesadaran bahwa mereka adalah kelas terpenting dalam proses produksi tidak mendapat tempat di kepala mereka. Berbanding terbalik dengan kelompok punk yang menyatakan bahwa mereka melakukan aksi moral mendukung “kawan-kawan” buruh. Dua kata itu, aksi moral, pasca peristiwa ‘98 hampir setiap hari tersiarkan lewat media. Jika kelompok punk di Indonesia “dikategorikan” sebagaimana Dick Hebdige dalam “Hiding In The Light” menyatakan bahwa punk adalah most depressed communities government cuts in welfare, housing, education, saya kira tidak sepenuhnya tepat demikian yang terjadi di Indonesia. Tampilan luarnya, style-nya, mungkin mengesankan hal itu, cara mereka “bersenang-senang” dengan mengamen dan nongkrong di jalan mungkin menegaskan hal itu. Tapi tidak itu yang “sebenarnya”, saya cenderung memasukkan mereka dalam “kategori” anak muda kelas menengah yang berusaha keluar dari parents culture yang menjejalkan pada mereka apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Kesan itulah yang saya dapatkan setelah beberapa tahun berada dalam komunitas punk, jadi ini sebenarnya adalah pendapat yang saya dapat dari pengalaman saya sendiri.

Punk sendiri adalah sebuah subkultur kelas menengah yang mapan, dimana cara mereka untuk “bersenang-senang” lebih memilih cara white working class (alias punk) di Inggris dalam menghadapi hidup yang mana cara itu mereka temukan dalam media-media formal sebagai contoh, bisa disebut majalah Hai di Indonesia[5]. Menurut saya hal ini berhubungan dengan kemapanan mereka sebagai kelas menengah dan ke-labil-an kelas pekerja. Kelas pekerja di Indonesia begitu “rawan” dengan kejadian-kejadian yang “berbahaya” untuk ditempati dengan nyaman oleh kelompok ini[6]. Dengan demikian, peniruan yang nanggung ini adalah strategi “berjaga-jaga” jika sewaktu-waktu kejadian semacam ini terulang, maka dengan mudah kelompok punk ini bisa “melompat” kembali pada kenyamanan kelas menengah yang lebih diuntungkan oleh aturan-aturan kuasa[7]. Penggunaan kata “aksi moral”, itu sendiri (menurut saya) masih menandakan kalau mereka, para punk, belum sepenuhnya bisa melepaskan diri dari parents culture yang coba mereka tinggalkan. Kalimat “aksi moral” itu saya kira mencerminkan dukungan kelompok punk, dengan demikian mereka mengandaikan dirinya bukan sebagai bagian dari kelas pekerja, mereka berada diluar kelas tersebut. Bayang-bayang kuasa parents culture masih melekat pada diri mereka melalui media formal dimana mereka mendapat “ketegasan” identitas mereka sebagai punk. Graffiti yang dibuat oleh kelompok punk terbaca berbeda dengan graffiti dari kelompok jaringan anti otoritarian, graffiti para punk terkesan lebih “abstrak”. Graffiti mereka berbunyi “Energi baru=hutang baru”. Saya kira dari kalimat inilah kemudian punk dan jaringan anti otoritarian “berpisah” meskipun model aksi dan style mereka terlihat sama. Perpisahan ini jelas terlihat dari sisi pesan yang ingin ditunjukkan dari graffiti tersebut. Dalam tubuh jaringan anti otoritarian pesan “global” dalam rangka hari buruh jelas terlihat, sementara dari kelompok punk hal ini tidak jelas terlihat. Dan kalimat yang menegaskan kehadiran kembali anarkis(me) juga jelas terlihat dalam graffiti mereka.


[1] Kata “berafiliasi” disini sebenarnya saya tidak begitu yakin ketepatan penggunaannya, karena antara Affinitas dan FNB partisipannya sama, yang membedakan hanya ketika mereka melakukan aksi. Menurut saya perbedaan nama itu hanyalah sekedar label untuk suatu aksi yang mereka lakukan. Sekedar catatan tambahan, beberapa jaringan anarkis biasanya “memiliki” dan atau “berafiliasi” dengan FNB di daerahnya masing-masing, tapi ada juga beberapa daerah yang tidak “memiliki” FNB. Informasi terakhir yang saya dapat dari teman-teman anti otoritarian, di Salatiga sedang merancang juga pembentukan FNB yang berkonsentrasi pada aksi penolakan pembangkit tenaga nuklir, FNB di Salatiga direncanakan memiliki alias Food Not Nuke.

[2] Mengenai aksi di Seattle lihat: Reclaim The Street, Film dokumenter aksi Seatle

[3] Lihat: Noam Chomsky, Kuasa Media, terj. Nurhady Sirimorok, Penerbit Pinus, Yogyakarta, 2005

[4] Lebih lanjut tentang kekerasan dalam punk lihat: Straighthate zine edisi punk is dead dan mawarhitam zine.

[5] Sekitar tahun 96-98 (tahun kemunculan punk di Indonesia) majalah remaja Hai, banyak memuat artikel-artikel tentang fashion punk di Inggris dan Amerika, namun hanya sebatas pada musik dan gaya berpakaian tidak sampai pada unsur-unsur “aksi radikal” kelas pekerja-nya.

[6] Lihat: kasus Marsinah dan atau Udin (yang belum “terpecahkan” sampai sekarang) atau (katakanlah) stigma (yang masih) menakutkan; dicap sebagai PKI.

[7] Lihat misalnya: (Bali Post, tahun 2006?) kasus penghinaan oleh kelompok punk di Singaraja, Bali, kepada aparat kepolisian. Setelah beberapa orang punk ditangkap, salah satunya ternyata adalah anak pejabat kepolisian, sebuah kisah (indah) kelompok punk yang sudah tertebak; mereka dibebaskan begitu saja, dengan alasan penghinaan itu adalah suatu bentuk kenakalan remaja biasa. Kisah selanjutnya: case closed!

Apa itu “anarkisme”? apa itu “anarki”? siapa sih para “anarkis” itu?

Anarkisme adalah sebuah ide tentang hidup dengan cara yang lebih baik. Sedangkan Anarki adalah sebuah cara untuk hidup.

Anarkisme menganggap bahwa pemerintahan ( Negara ) itu bukan saja tidak diperlukan tapi juga berbahaya. Para anarkis adalah mereka yang mempercayai anarkisme dan memiliki hasrat untuk hidup di dalam anarki sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para leluhur kita dulu. Mereka yang mempercayai pemerintahan ( seperti kaum liberal, Marxis, Konservatif, sosialis dan fasis ) dijuluki sebagai “statist.”

Awalnya anarkisme mungkin terkesan sangat negatif – karena oposisinya yang mentah. Namun sebenarnya, para anarkis memiliki banyak ide positif mengenai hidup di dalam sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Tidak seperti para Marxis, Liberal dan konservatif, mereka sama sekali tidak menawarkan sebuah cetak biru dari masyarakat

« Previous entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.