Anak-anak “Punk” itu Juga Puasa

Oleh RADITYA

Batam (ANTARA News) – Mengenakan celana panjang ketat, kaus hitam, dan sepatu kanvas butut, Dennis berdiri seorang diri di pelataran Mega Mall, Batam.

Rambutnya yang biasa ia cat warna-warni, kini hanya berwarna kemerahan, walau masih terlihat jelas ciri sebagai anak “punk”.

Biasanya, setiap sore, Dennis dan komunitas punk lain berkumpul di pos masing-masing. Kebanyakan mereka hidup dari hasil mengamen.

Tetapi tidak petang itu. Ia sendirian di “pos” yang biasa menjadi tempat berkumpul kelompok punk lain.

Seiring bulan puasa menjelang, kawasan Batam Center yang biasanya diwarnai tingkah-polah anak-anak punk, mulai ditinggalkan oleh kawan-kawan Dennis. Satu per satu mereka pergi, meninggalkan komunitas untuk kembali hidup bersama keluarga saat Ramadhan tiba.

“Lebih dari setengah anak punk pada pulang (ke rumah keluarga),” kata Dennis, anak punk komunitas Sei Panas.

Di Batam, terdapat sedikitnya lima komunitas punk, Batam Centre, Panbil, Sei Panas, Batu Aji, dan Nagoya.

Pada hari biasa, mereka tinggal di ruko-ruko kosong dan pinggir jalan. Namun, pada Ramadhan, rumah toko sepi, komunitas punk meninggalkan “rumah”.

Anak-anak muda dengan rambut warna-warni dengan tatanan ditarik ke atas ala “spike”, kini jarang terlihat di jalanan Batam.

Anak punk biasanya mendeskripsikan diri sebagai manusia yang bebas berekspresi. Mereka hidup di jalan beramai-ramai dalam sebuah kelompok, tanpa aturan yang membelenggu, kecuali solidaritas yang tinggi.

Makan, tidur, senang, sedih dirasakan bersama-sama. “Makan ora makan asal ngumpul,” begitu motto mereka.

Namun demikian ketika bulan puasa tiba, mereka saling berpencar, kembali ke keluarga batih masing-masing.

Kangen masakan bunda

Magnet terkuat yang menarik anak punk pulang ke keluarga kala bulan suci adalah masakan sang bunda.

Mimi (17), gadis asal Tanjungbalai, Karimun, memilih pulang ke pulau seberang untuk mendapatkan ketenangan dan kemenangan dalam Ramadhan.

“Kasihan ibu kalau saya menghabiskan bulan puasa di jalan. Lagi pula, saya rindu masakan ibu,” katanya.

Gadis punk lain, Kaka (18) mengaku kangen menyantap gulai ikan buatan ibu.

“Makanya aku mau pulang. Buka puasa makan gulai ikan buatan ibu,… mmm nikmat,” kata gadis berambut sebahu itu tersenyum.

Gadis yang siang itu mengenakan celana pendek dan kemeja kotak-kotak mengatakan sedang mengumpulkan uang untuk pulang ke rumah orang tua di Tanjung Uma, sekitar 15 km dari Batam Centre.

“Aku baru satu hari di jalan, kemarin-kemarin pulang, karena sedang halangan, tidak puasa, jadi ke jalan lagi,” kata anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Setengah hari

Tapi, tidak semua anak punk Muslim berpuasa penuh sesuai syariat Islam.

Bento, lelaki asal Medan berusia 28 tahun, berpuasa setengah hari.

“Awak puasa setengah hari saja, habis tidak kuat,” kata pria berambut ikal melebihi bahu.

Ia mengatakan setiap pukul 12.00 WIB dia minum dan makan, menghilangkan dahaga dan lapar yang mendera karena sibuk memarkirkan motor di pusat perbelanjaan Barata, Batam Centre.

“Awak paling tidak kuat kalau haus, habis, Batam ini panas betul,” katanya.

Sekitar pukul 13.00 WIB, ia kembali berpuasa, menahan haus dan lapar, juga nafsu dunia lain.

Bagi Bento, agama adalah urusan pribadi. Tidak seorang pun manusia yang berhak mengutak-utik ibadah seseorang.

Begitu juga dengan Imunk, yang sejak Ramadan hari pertama tidak pernah puasa.

“Mungkin saya harus pulang (ke keluarga-red) dulu, biar puasa,” katanya.

Meski tidak puasa, ia mengaku menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah.

“Saya tidak mabuk,” katanya, menyebutkan toleransi yang dia lakukan kepada muslim lain.

Ia mengatakan, dirinya selama bulan puasa tidak sering minum alkohol.

“Minum sih, tapi cuma basa-basi,” katanya.

Minum basa-basi itu ia artikan meminum dalam kuantitas kecil sehingga tidak menyebabkan mabuk.

Rajin shalat

Lain Imunk, lain juga perangai Didik. Ia justru rajin shalat kala Ramadhan.

Meski jarang mandi, ia mengaku selalu shalat karena malu dengan dosa-dosa selama satu tahun.

“Paling tidak insyaf satu bulan dalam setahun,” katanya.

Ia mengaku baru “kalah” satu dalam puasa. Itu pun karena sakit.

Didik punya rencana untuk komunitasnya merayakan kemenangan Ramadan.

“Inginnya sih jalan-jalan sama anak-anak,” katanya.

Sebagai anak punk, komunitasnya memiliki “kekuasaan” mendapatkan fasilitas gratis untuk jalan-jalan.

“Stop lori di pinggir jalan, numpang, sampai mana saja,” katanya.

Ia menyebut Barelang dan Tanjungpinang sebagai tujuan berwisata saat Lebaran.

“Kalau lapar, tinggal ketuk pintu rumah orang minta makan. Masak mereka tidak punya makanan, kan lagi Lebaran, tidak boleh pelit,” katanya. (*)

2 Comments »

  1. andi anjal panbil Said:

    itu semua sangat aq sukai dri ank punk……………………..

    mengapa orng mlht kami seblah mata mentang”………..

    pakean mereka gk rapi orng lht sebelah mata…………………

    masa rakat-masa rakat……………………………..

    wlau pun hdup di jalanan kami tau iman n solat……………………………

  2. prayogo Said:

    banga rasana klo bsa knal ma mreka,prayogo,20 thn,mahasiswa and karyawan


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: